Menteri ESDM Sudirman Said: Aramco Akan Berinvestasi Di Indonesia
![]() |
| Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said saat berfoto bersama |
Jakarta, Laras Post – Perusahaan minyak Saudi Arabian Oil Company (Aramco) akan menanamkan investasi dengan membangun kilang, dan storage, sekaligus secara langsung melakukan distribusi di Indonesia.
Perusahaan milik pemerintah Saudi Arabia itu, kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, berniat menanamkan investasi sebesar 10 miliar dollar AS untuk membangun bisnis di Indonesia.
Namun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said menyebutkan, ada beberapa isu yang belum mendapat penjelasan, seperti soal skema antara Aramco dengan Pertamina. “Kita harapannya disamping memang menjamin pasokan crude, juga mereka investasi,” ujarnya kepada wartawan, saat mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan ke tiga negara Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, pada Senin (14/9/2015) di Dubai
Ia menjelaskan, pemerintah Arab Saudi berharap Aramco bisa masuk ke hilir, ke marketing dan distribusi. Namun Pertamina belum sepenuhnya sepakat. “Sementara secara regulasi dan secara arah pemerintah juga kita membuka lebih lebar market untuk hilir. Hal ini yang penting untuk membuat beban menggendong stok nasional maupun infrasrtuktur bisa dibagi antara pertamina dengan pemain-pemain lain,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menyatakan, hal lain yakni, dengan adanya persaingan yang lebih luas, mau tidak mau seluruh pemain baik swasta maupun Pertamina akan dipacu untuk lebih efisien, dan yang diuntungkan adalah masyarakat.
“Jadi, ini juga masih disimpulkan dengan Pertamina, dan saya kira juga Pertamina mendengar dari mereka tidak ada masalah sudah siap untuk bekerjasama,” terangnya.
Menurutnya, dalam pembicaran Presiden Jokowi dengan Raja Arab Saudi, Menteri Pertahanan, Putra Mahkota dan pebisnis, memang Saudi Arabia sudah siap untuk masuk ke Indonesia.
Disebutkan, Aramco produksi minyaknya sangat besar. ‘Aramco sudah lama memasok Indonesia, dan kemudian nanti kita kerjasama denga OPEC, karena kita akan masuk OPEC, akan membuat seluruh peluang kerjasama dengan negara-negara produsen minyak, meskipun tidak selalu dalam bidang minyak, akan sangat terbantu karena kita akan berinteraksi dengan mereka,” terangnya.
Sudirman menyebutkan, para produsen minyak kali ini sedang berusaha keras untuk mendeversifikasi ekonominya dari yang dominan oil and gas menuju ke lebih beragam. “Ini yang bisa berpartner, kita butuh uang mereka, kita butuh minyak mereka, kemudian kita menberikan oportunity untuk investasi di Indonesia,” ujarnya.
Adapun bentuk kerjasama, kata Sudirman, Aramco tertarik refinary dan storage, karena mereka itu, apalagi Arab Saudi, tapi rata-rata negara Timur Tengah cukup memiliki cadangan, dan minyaknya minyak murah, karena minyak di darat. “Jadi mereka lebih tertarik bagaimana mereka menggunakan Indonesia sebagai pasar. Artinya, mengirim crude, membangun kilang, artinya didistribusikan dan dijual di wilayah kita,” terangnya.
Ia menyebutkan, Indonesia akan mendapat manfaat karena investasi untuk membangun refinary dan kilang penyimpanan itu akan ditanggung oleh investor, sehingga dana Pertamina bisa dipakai untuk yang lain.
Waktu Yang Tepat
Sebelumnya, Presiden Jokowi mengemukakan, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi para investor untuk berinvestasi di Indonesia.
Menurutnya, seluruh peluang bisnis di Indonesia saat ini menjanjikan dengan iklim dan kepastian berusaha yang sangat baik. “Saya menyambut kedatangan saudara di negara yang semua kesempatan berbisnis terbuka lebar. Datang dan berinvestasilah di Indonesia,” kata Jokowi, pada Senin (14/9/2015) di forum bisnis dan investasi Indonesia dan Qatar, di Doha, Qatar.
Presiden menegaskan, Indonesia tengah gencar membangun megaproyek antara lain 24 pelabuhan baru, 15 bandar udara baru, 1.000 km jalan tol, 49 bendungan, 35.000 MW pembangkit listrik, dan pembangunan MRT di 23 kota besar di Indonesia.
Proyek-proyek pembangunan tersebut, kata Jokowi, melengkapi rencana untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri manufaktur. “Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Paket Kebijakan Ekonomi yang bertujuan untuk memberikan plat forms dalam mengimplementasikan proyek pembangunan tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Presiden Jokowi mengungkapkan, Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan 21 miliar dollar AS dari APBN tahun 2016. “Walau sebagian proyek telah dimulai, Indonesia masih membutuhkan investasi dari sektor swasta,” tegasnya. (her, sg, ram)







Tidak ada komentar